Tidak sedikit kader di tingkat bawah yang bergerak dengan keterbatasan, menjalankan kegiatan organisasi secara mandiri, bahkan harus berjuang sendiri mencari dukungan. Ironisnya, kondisi ini terjadi ketika banyak senior HMI telah berada di posisi strategis, namun kehadiran dan keberpihakan mereka terhadap kebutuhan kader justru minim dirasakan.
Relasi senior–kader yang seharusnya bersifat membina dan memberdayakan, kini kerap berubah menjadi relasi yang timpang. Kader lebih sering dijadikan alat legitimasi, bukan subjek perjuangan. Ketika kader membutuhkan dukungan konkret—baik pemikiran, jaringan, maupun bantuan fasilitatif—yang muncul justru jarak dan sikap acuh tak acuh.
Jika arus kepentingan senior terus mendominasi arah organisasi, maka HMI berisiko kehilangan ruh kaderisasinya. Organisasi akan tumbuh secara struktural, tetapi rapuh secara ideologis. Padahal kekuatan HMI sejatinya terletak pada kualitas kader, bukan pada seberapa dekat organisasi dengan lingkaran kekuasaan.
Statemen ini menjadi ajakan reflektif bagi seluruh elemen HMI, khususnya para senior, untuk kembali menempatkan kader sebagai pusat perjuangan. HMI tidak boleh menjadi tangga ambisi segelintir orang, melainkan rumah besar perjuangan yang adil, terbuka, dan berpihak pada proses kaderisasi. Tanpa keberanian untuk mengoreksi diri, HMI hanya akan besar dalam nama, namun kehilangan makna.
Penulis: Jihan Akbar
Ketum HMI komisariat Lafran pane tebing tinggi 2024-205.
(GN)
